Selasa, 17 Mei 2011

Tangkai Berubah Minyak

www.binmuhsingroup.comToko Obat Herbal Online Harga diskon, Toko Buku Kesehatan Islami, Tempat pendaftaran Ujian Paket A B C , Jual Beli Sewa Mesin Foto Copy, Perjalanan Haji dan Umroh, Pesantren Blogger, Klinik Pasutri. Jual Habbatussauda, Madu Habbatussauda, Minyak Zaitun, Fenugreek, Fennel, Bin Muhsin Powder Datse Lollen, dll. UNTUK PEMESANAN HUBUNGI BIN MUHSIN HP: 085227044550 Tlp: 021-91913103 SMS ONLY: 081213143797@MyYM @MyFacebook @MyTwitter @MyYuwie @MyFriendsterbinmuhsin_group@yahoo.co.id\

‘Berapa pun ada minyak, saya akan ambil,’ kata pengepul minyak gagang cengkih, Sukijan, kepada Siti Ismiyatun. Padahal, harga minyak melambung hingga Rp170.000 per kg.

Siti Ismiyatun yang baru menyuling gagang cengkih setahun terakhir, hanya sanggup memasok 80 kg minyak gagang cengkih per hari. Itu ketika musim panen tiba pada Juni sampai September. Dalam setahun, ia mampu menyuling tangkai bunga anggota famili Myrtaceae itu hanya empat bulan. Dalam musim sulingan itu, omzet Ismiyatun Rp10.400.000 per hari. Sedangkan biaya produksi untuk menghasilkan satu kg minyak gagang cengkih Rp 137.500.

Tiga bulan belakangan harga jual minyak gagang cengkih memang meroket, yakni Rp160.000 - Rp170.000 per kg di tingkat penyuling. Sebelumnya, harga jual minyak cengkih hanya Rp70.000 per kg. Peningkatan harga signifikan itu karena banjir melanda sentra cengkih di Madagaskar sehingga pasokan di pasar dunia pun anjlok. Akibatnya harga pun terkerek.

Saat ini harga jual minyak gagang cengkih per kg lebih mahal Rp35.000 daripada minyak daun cengkih. Menurut ketua Dewan Asiri Indonesia, Dr Meika Syahbana Rusli harga jual komoditas pertanian memang sedang meningkat. Minyak cengkih diprediksi akan turun tapi tetap akan lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan faktor kompetisi lahan dan global climate change ikut berperan penting menentukan harga. Jika harga jual stabil pada kisaran Rp70.000 - Rp80.000 per kg, penyuling tetap masih bisa menikmati laba.

Rendemen 5%

Untuk memperoleh 80 kg minyak, Ismiyatun memerlukan 1.600 kg bahan baku per hari. Warga Desa Banjararum, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta, membeli gagang cengkih Rp5.500 per kg. Produsen minyak asiri itu membeli bahan baku di petanipetani cengkih di Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Selama musim menyuling gagang cengkih (Juni - September) ia hanya mampu mengumpulkan rata-rata 1.600 kg bahan baku.

Ia memilih gagang yang utuh atau tak patah dan kering. Ismiyatun tak tahu persis kadar air tangkai bunga itu. Di rumahnya seluas 1.000 m2, ia menempatkan tabung berkapasitas 800 - 1.000 kg, berdiameter 1,5 meter, dan tinggi 2,8 meter. Ismiyatun menerapkan sistem uap tak langsung, yakni antara tangki bahan baku berbeda dengan tangki yang menghasi lkan uap panas. Uap panas masuk ke tangki bahan baku hingga minyak asiri keluar dari gagang cengkih dan kembali terbawa uap panas.

Proses penyulingan selama 16 jam. Dalam sehari rata-rata Ismiyatun 2 kali menyuling. Ia memanfaatkan uap air panas hasil penyulingan sebelumnya sehingga menghemat bahan bakar. Sebab, Ismiyatun tak perlu memanaskan ulang. Perempuan bungsu dari 3 bersaudara itu menggunakan gagang sampah sulingan sebagai bahan bakar. Tentu saja setelah ia menjemur gagang itu hingga kering. Dengan demikian, produsen minyak asiri itu tak perlu membeli bahan bakar.

Rendemen penyulingan gagang cengkih antara 3 - 5%. Artinya untuk menghasilkan 1 kg minyak, perlu 20 - 35 kg bahan baku. Ismiyatun memperoleh rendemen rendah (3%) ketika menyuling pada musim kemarau; rendemen 5%, pada musim kemarau. Menurut Meika Syahbana kandungan eugenol dalam minyak gagang cengkih lebih tinggi, yakni 83 - 95%. Sedangkan kadar eugonol pada minyak daun cengkih hanya 82 - 87%.

Dengan teknologi uap tak langsung, Ismiyatun menghasilkan minyak lebih jernih daripada sistem uap langsung. Oleh karena itu harga jual minyak gagang cengkih hasil teknologi uap tak langsung Rp10.000 lebih mahal daripada minyak hasil penyulingan sistem uap langsung.

Langka

Meski pasar terbuka, tetapi Ismiyatun gagal memenuhi permintaan karena bahan baku terbatas. Beberapa penyuling gagang cengkih harus berebut dengan produsen rokok. Menurut Meika Syahbana, kemungkinan gagang cengkih juga diekstrak sendiri oleh produsen rokok menjadi bahan aroma tambahan untuk rokok kretek. Kesulitan bahan baku menyebabkan beberapa penyuling gulung tikar. Dari 22 penyuling di Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Kulonprogo, hanya 15 penyuling gagang cengkih yang mampu bertahan.

Untuk mengatasi kendala bahan baku, penyuling gagang cengkih, Bambang Suryanto mendirikan Koperasi Asiri Sari Jaya pada di Kecamatan Samigaluh. Koperasi itu antara lain mendatangkan bahan baku dari Palopo, sentra cengkih di Provinsi Sulawesi Selatan. Koperasi menjual gagang cengkih asal Palopa kepada para penyuling Rp4.500 - Rp5.500 per kg. Meski permintaan bahan baku relatif tinggi, koperasi hanya mampu mendatangkan 15 ton per sekali pesanan. Itu pun jika bahan baku tersedia. Sayangnya, musim panen di Palopo juga sama dengan musim panen di Samigaluh, Juni - September.

Penyuling lain, Sukijan, memilih untuk membangun 3 tungku berkapasitas masing-masing 1 ton di Palopo. Meski demikian, Sukijan menghadapi masalah sama, keterbatasan bahan baku, sehingga hanya mampu menyuling pada Juni - September. Padahal, semula gagang cengkih Syzygium aromaticum sering terbuang percuma.

Di luar ke-4 bulan itu, para penyuling seperti Ismiyatun menyuling daun yang tersedia hampir sepanjang tahun. Menurut Ismiyatun, harga minyak daun cengkih memang lebih murah Rp10.000 per kg daripada minyak gagang. Toh, harga itu tetap lebih tinggi ketimbang bunga cengkih. Saat ini harga jual bunga cengkih di tingkat pekebun mencapai Rp40.000 - Rp70.000 per kg.

Menurut Bambang, prospek pasar minyak cengkih memang masih bagus. Meski harganya berubah-ubah, tetapi cenderung meningkat. Pada 2009, harga minyak gagang cengkih Rp70.000, kemudian naik menjadi Rp100.000 per kg. Menurut catatan Dewan Asiri Indonesia, volume ekspor Indonesia tahun 2010 sebanyak 2.500 ton minyak cengkih ke beberapa negara. Meika Syahbana Rusli memperkirakan tidak sampai 10% dari ekspor minyak cengkih itu berasal dari gagang cengkih.

Artikel ini di copy dan diedit dari www.trbus-online.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar